Potensi investasi 2026 diprediksi akan berpusat pada dinamika pasar modal dan lonjakan komoditas emas di tengah situasi ketidakpastian ekonomi global yang terus membayangi. Lalu apa saja yang dapat kita lakukan sebagai ivestor ritel?

Berikut ini diskusi saya, dengan Timothy Marbun (podcaster) di podcast Manusia Masa Depan.

 


Dapat ditonton atau didengarkan di:

Tonton di Youtube
Dengarkan di Spotify
Dengarkan di Apple Podcast

📝 Poin Penting: Potensi Investasi 2026 di Indonesia

Berikut ini poin-poin penting dalam diskusi mengenai potensi investasi 2026 di Indonesia:

 

Saham Indonesia

Pasar modal, khususnya saham, menjadi sangat menarik saat ini karena Bank Indonesia sedang menurunkan suku bunga.

Penurunan ini membuat biaya modal menjadi lebih murah, sehingga memicu ekspansi bisnis dan aktivitas penggabungan usaha (merger & acquisition).

 

Emas

Di sisi lain, emas diproyeksikan akan terus mengalami rally (naik terus) hingga 2026.

Hal ini didorong oleh aksi negara-negara besar seperti Tiongkok yang secara masif mengurangi kepemilikan surat utang Amerika Serikat dan mengalihkan cadangannya ke emas fisik dalam skala ton.

 

Obligasi / Surat Utang Negara Retail (SBN Retail)

Investasi berupa surat utang yang diterbitkan oleh Pemerintah Indonesia kepada warganya yang dapat memberikan pemasukan kupon/bunga secara rutin dan aman.

Properti Produktif (seperti Kos-kosan)

Investasi properti yang ditujukan untuk menghasilkan arus kas langsung (cash flow), seperti kos-kosan (misalnya rumah kos 15 kamar), bukan properti kosong yang hanya mengandalkan spekulasi kenaikan harga tanah.

Saya menegaskan bahwa untuk properti kelas menengah biasa di luar properti produktif diprediksi belum akan naik di tahun 2026 karena daya beli masyarakat yang belum kuat.

 

Saya membagi kondisi keuangan seseorang ke dalam dua jenis permainan yang memerlukan strategi berbeda.

  • Orang yang masih berada dalam fase bertahan hidup, umumnya fokus pada income statement (meningkatkan pendapatan dan mengontrol pengeluaran) serta berinvestasi pada kapasitas diri sendiri.
  • Namun, bagi mereka yang pendapatannya sudah mencapai Rp40–50 juta ke atas dengan aset sekitar Rp1 Miliar, mereka harus beralih ke balance sheet mindset. Di level ini, fokusnya bukan lagi sekadar mencari gaji, melainkan bagaimana mengalokasikan dana ke aset yang menghasilkan (seperti waralaba, saham, atau properti).

Siklus Game Cepat Kaya Lintas Generasi yang mayoritas gagal

Bagian ini sangat menarik karena mengulas bagaimana setiap generasi memiliki tren cepat kaya masing-masing:

  • Gen X dengan sistem waralaba (franchise) dan MLM,
  • Gen Y/Milenial dengan era startup yang mengejar pendanaan raksasa,
  • dan Gen Z dengan instrumen kripto atau koin micin.

 

Saya mengingatkan bahwa faktanya 95% dari skema cepat kaya ini berakhir gagal.

Jalan yang lebih pasti untuk kaya sebenarnya adalah melalui proses akumulasi yang sabar (compounding effect) dan memperkuat pondasi diri.

Bagi pemula yang memiliki modal namun minim pengalaman bisnis, Melvin membagikan hack cerdas: jangan memulai bisnis dari nol.

  • Sebaliknya, carilah teman yang sudah memiliki bisnis yang terbukti sukses (minimal memiliki 2 cabang) dan tawarkan kerja sama untuk membuka cabang baru.  Dengan begitu, risiko kegagalan bisa ditekan karena kita memanfaatkan keahlian operasional mereka, sehingga kita terhindar dari kerugian akibat belajar dari kesalahan (learning cost).
  • Selain itu, pemula disarankan memilih bisnis dengan captive market (pasar yang sudah pasti, seperti berjualan di area apartemen) daripada harus mencari pelanggan dari awal di pinggir jalan.

Banyak orang salah kaprah dan mengira kebebasan finansial membutuhkan uang tunai dalam jumlah fantastis, seperti Rp100 hingga Rp500 Miliar (konsep gudang uang).

Padahal, esensi dari financial freedom adalah memiliki keran (arus kas/aset aktif) yang menghasilkan uang secara konsisten untuk membiayai gaya hidup kita tanpa kita harus bekerja aktif.

Saya mencontohkan salah satu kliennya di usia 50-an yang memiliki gaji besar namun tidak menyadari bahwa ia sebenarnya sudah bebas finansial karena memiliki aset produktif seperti kos-kosan, waralaba laundri, minimarket, dan bisnis kuliner yang menghasilkan arus kas pasif hampir Rp1 Miliar per tahun.


💬 Statement Penting 

Berikut ini pernyataan penting terkait potensi investasi 2026 di Indonesia:

 

Ketidakpastian itu akan ada. Tapi kalau kitanya siap, kitanya tahu caranya memanfaatkan di momen-momen ini, itu jadi duit.

Pernyataan Saya mengenai “ketidakpastian itu akan ada. Tapi kalau kitanya siap, kitanya tahu caranya memanfaatkan di momen-momen ini, itu jadi duit” maksudnya adalah:

 

🔵 Melihat Peluang di Tengah Kegelapan (Oposisi Sektor)

Banyak orang merasa kondisi ekonomi sedang buruk atau gelap, karena mereka hanya fokus pada sektor yang sedang lesu (seperti properti kelas menengah yang diproyeksikan masih mandek akibat lemahnya daya beli masyarakat).

Saya coba menjelaskan bahwa di sini gelap tapi di sana lagi terang. Dengan terus mendorong diri untuk membaca lebih banyak, melakukan riset, dan memperluas jejaring (networking), kita bisa melihat sektor-sektor lain yang justru sedang bersinar.

 

🔵 Membaca Kode Pergeseran Pasar

Ketidakpastian global memicu pergeseran aliran dana besar yang sebenarnya bisa dibaca polanya jika kita bersiap.

Sebagai contoh konkret di tahun 2026:

  • Emas terus mengalami kenaikan (rally) karena negara-negara besar seperti Tiongkok secara masif mengurangi kepemilikan surat utang AS dan mengalihkan cadangan devisa mereka ke emas fisik dalam skala ton.
  • Saham menjadi instrumen yang sangat menarik untuk mulai dibeli karena Bank Indonesia sedang menurunkan suku bunga acuan, yang secara teknis membuat biaya modal perusahaan lebih murah dan memicu ekspansi bisnis.

 

🔵 Menghindari FOMO (Ikut-ikutan)

Kesiapan yang saya maksud adalah kesiapan secara kapasitas pemahaman, bukan sekadar menyiapkan uang lalu bertindak impulsif.

Masalah terbesar bagi banyak investor di masa ketidakpastian adalah membeli aset hanya karena ikut-ikutan tren orang lain tanpa mempelajari dan meriset kodenya terlebih dahulu.

 

🔵 Tidak Membatasi Diri dengan Alasan Realistis

Sering kali orang menggunakan kata realistis sebagai tameng atau pembenaran untuk tidak melakukan usaha lebih (all out) di tengah masa sulit.

Melvin menekankan pentingnya memaksimalkan kapasitas diri sendiri terlebih dahulu melalui pengetahuan (knowledge), keahlian (skill), jam terbang (experience), jejaring (network) dan personal branding agar siap menangkap peluang emas saat momen itu datang.

👨🏻Profil Timothy Marbun dan Podcast Manusia Masa Depan

Timothy Marbun adalah seorang jurnalis, produser eksekutif, dan pembaca berita televisi Indonesia yang dikenal luas sebagai salah satu wajah utama di stasiun Kompas TV. Selain karier panjangnya di dunia jurnalistik penyiaran, ia juga merupakan seorang pengusaha yang turut mendirikan kedai kopi Sabang 16.


4 Potensi Investasi 2026 di Indonesia Podcast Manusia Masa Depan Timothy Marbun

Melvin Mumpuni (kiri) dan Timothy Marbun (kanan) di Podcast Manusia Masa Depan


Manusia Masa Depan adalah podcast yang tayang di saluran Nalar TV dan dipandu oleh jurnalis sekaligus presenter, Timothy Marbun.

Program ini menghadirkan berbagai tokoh dari beragam latar belakang (seperti aktor, penulis, konsultan, hingga ilmuwan) untuk mendiskusikan berbagai topik yang relevan dengan kehidupan manusia di era modern. Topik-topik yang dibahas mencakup perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), filsafat (seperti stoikisme), kesehatan mental, hingga bagaimana media sosial dan budaya kerja membentuk cara manusia beradaptasi serta menghadapi masa depannya.

Podcast Manusia Masa Depan dapat diakses melalui:

 


✍🏻Catatan:

Untuk undang Melvin Mumpuni ke podcast atau acara Anda silakan hubungi kami.

Cek ringkasan podcast lainnya.