Mengatur keuangan Gen Z di era modern saat ini menjadi sebuah tantangan besar akibat maraknya perilaku lifestyle inflation serta kemudahan akses teknologi keuangan seperti paylater yang kerap digunakan untuk pengeluaran mikro harian seperti membeli pulsa. Lalu bagaimana solusinya?

Berikut ini diskusi saya, dengan Coach Tom Mc Ifle (podcaster) di podcast Behind the Business.


Dapat ditonton atau didengarkan di:

Tonton di Youtube
Dengarkan di Spotify
Dengarkan di Apple Podcast

📝 Poin Penting: Cara Mengatur Keuangan Gen Z

Berikut ini poin-poin penting dalam diskusi mengenai cara mengatur keuangan Gen Z:

Podcast ini membedah kebiasaan pekerja muda yang baru lulus (fresh graduate) yang langsung berutang demi gaya hidup begitu mendapat gaji pertama.

Gen Z biasanya mencicil smartphone seharga motor (smartphone harga Rp 20 – 30 juta) hanya demi selfie atau membuat konten agar terlihat keren.

Pola ini terus meningkat seiring kenaikan gaji mereka di masa depan. 

Kebiasaan keuangan buruk yang sering dialami anak muda berakar dari didikan masa kecil yang salah, yaitu “belanja dulu baru sisanya ditabung“.

Untuk mengatur keuangan dengan benar, rumus ini harus dibalik: sisihkan uang untuk tabungan (dan berbagi) di awal, baru sisanya dibelanjakan.

Faktanya, cara ini hampir selalu membuat uang habis tanpa ada sisa untuk ditabung.

Mulai sekarang, rumusnya harus dibalik: begitu menerima uang atau gaji, langsung sisihkan di awal untuk tabungan (dan berbagi/charity), baru setelah itu sisanya boleh dibelanjakan.

Jika Anda tidak bisa rutin menabung atau berinvestasi, maka gaji hanya akan numpang lewat.

 

 

 

Saya secara khusus menyoroti perilaku generasi muda (Gen Z) yang sangat mudah berutang menggunakan fitur paylater bahkan untuk pengeluaran mikro harian yang sepele, seperti membeli pulsa atau alat tulis. Utang-utang kecil yang dianggap sepele ini jika terakumulasi bisa sangat menumpuk dan berujung pada tingginya angka gagal bayar di kalangan anak muda. 

Hal ini memicu tingginya angka gagal bayar di kalangan mereka. Hindarilah berutang untuk kebutuhan konsumtif dari sejak usia muda.

Mengatur keuangan bagi Gen Z tidak hanya soal berhemat, melainkan juga tentang cara kreatif menghasilkan uang sendiri (menciptakan nilai/create value) sejak dini, seperti berbisnis atau memanfaatkan media sosial. 

Gen Z perlu tahu berbagai cara atau strategi untuk memperbesar penghasilan, termasuk pemasukan dari kerja (active income), investasi (investment income) dan pasif (passive income). 

Saya mencontohkan bagaimana anak-anak zaman sekarang bisa menghasilkan jutaan dolar hanya dari kreativitas membuat mainan seperti slime atau membuat konten YouTube yang menghasilkan eksposur besar.

Mengatur keuangan masa depan juga berarti menjaga kemampuan menghasilkan uang.

Saya mengingatkan para pekerja muda agar terus belajar dan tidak terjebak dalam pekerjaan rutin monoton (analogi mengencangkan baut). Pekerjaan rutin sangat mudah digantikan oleh kecerdasan buatan (AI). Jika berhenti belajar, Anda berisiko kehilangan relevansi dan tersingkir dari pekerjaan dalam waktu 5 tahun ke depan.

Coach Tom menjelaskan sekilas tentang 8 Sacred Money Archetypes (penulis Kendall Summerhawk). 

Secara psikologis, anak muda sering memiliki arketipe keuangan The Fool yang tinggi, yaitu sifat yang menyukai adrenalin, senang bereksperimen, dan tidak ragu mencoba hal baru. Jika dikombinasikan dengan arketipe The Innocent (tidak mau tahu detail risiko keuangan), sifat ini membuat Gen Z sangat rentan tergiur oleh judi online atau tawaran investasi bodong yang menjanjikan keuntungan kilat (seperti janji profit 40% per tahun).


💬 Statement Penting 

Berikut ini pernyataan penting terkait Cara Mengatur Keuangan Gen Z:

Gen Z di Indonesia semakin besar penghasilannyapengeluarannya makin besar, cicilannya makin besar dan tabungannya makin tipis.

Pernyataan Saya mengenai “Gen Z di Indonesia semakin besar penghasilannya, pengeluarannya makin besar, cicilannya makin besar dan tabungannya makin tipismenjelaskan masalah besar dalam mengatur keuangan Gen Z.

 

🔵  Konsumsi Mengikuti Kenaikan Gaji

Ketika seseorang baru mulai bekerja (fresh graduate) dengan gaji UMR (misalnya Rp4,5 juta), mereka sering kali langsung berutang untuk membeli barang konsumtif demi penampilan atau konten media sosial, seperti membeli smartphone seharga motor. 

Ketika penghasilannya sudah meningkat dari Rp 4,5 juta –> Rp 10 juta, cicilannya juga akan meningkat. Dari awalnya nyicil smartphone sekarang nyicil mobil dan seterusnya.

 

🔵 Upgrade Cicilan Seiring Naik Jabatan

Saat karier meningkat setelah 5 hingga 10 tahun dan penghasilan naik menjadi Rp10 juta hingga Rp20 juta, porsi cicilan mereka bukannya berkurang melainkan ikut naik (di-upgrade) untuk membeli mobil atau barang mainan lainnya.

Pola peningkatan cicilan ini terus berulang bahkan ketika mereka sudah mencapai posisi manajemen puncak atau direksi dengan gaji yang jauh lebih besar.

 

🔵 Habisnya Dana Pensiun untuk Bayar Utang

Karena terus-menerus meningkatkan standar cicilan seiring naiknya gaji, porsi tabungan mereka tetap sangat tipis.

Ketika tiba waktunya pensiun di usia 56 tahun, uang dana pensiun yang mereka terima langsung habis seketika hanya untuk melunasi sisa-sisa utang yang menumpuk selama masa kerja.  Akibatnya, mereka pensiun tanpa memegang uang tunai sama sekali.

 

🔵 Melanggengkan Derita Generasi Sandwich

Karena tidak memegang uang di hari tua, kebutuhan hidup para pensiunan ini akhirnya dibebankan kepada anak-anak mereka yang sudah dewasa.

Hal ini menciptakan beban finansial baru bagi anak-anak mereka dan melanggengkan siklus kesulitan keuangan.

👨🏻Profil Coach Tom Mc Ifle dan Podcast Behind the Business

Tom MC Ifle (nama lengkap: Tom Martin Charles Ifle) adalah seorang pakar pelatih bisnis (business coach) terkemuka di Indonesia dan merupakan pendiri dari Top Coach Indonesia. Ia dikenal luas sebagai Master Coach #1 di Indonesia yang berfokus membantu para pengusaha, mulai dari skala UKM (Usaha Kecil Menengah), bisnis menengah, hingga perusahaan multinasional.

 

Cara Mengatur Keuangan Gen Z ala Melvin Mumpuni di Podcast Behind The Business Coach Tom Mc Ifle

Melvin Mumpuni (kiri) dan Coach Tom Mc Ifle (kanan) di Podcast Behind the Business 


Podcast Behind The Business adalah program edukatif yang dipandu oleh pakar pelatih bisnis Coach Tom MC Ifle, yang bertujuan untuk membongkar realita dan sisi belakang layar dari dunia bisnis yang jarang diketahui publik.

Melalui obrolan blak-blakan bersama berbagai bintang tamu seperti praktisi bisnis, miliarder, dan pakar di bidangnya, podcast ini mengupas tuntas tantangan nyata para pengusaha, mulai dari masalah kepemimpinan, manajemen keuangan, membangun sistem, hingga psikologi perilaku.

✍🏻Catatan:

Untuk undang Melvin Mumpuni ke podcast atau acara Anda silakan hubungi kami.