Abundance mentality dan Scarcity Mindset  adalah kunci penentu kesukesan finansial seseorang.

Pernahkah Anda bertemu orang seperti Rudi?

Seorang karyawan dengan gaji empat puluh juta sebulan. Secara logika, hidupnya pasti nyaman. Anehnya, Rudi justru sering gelisah dan selalu merasa kurang. Dia merasa kariernya mandek.

Lucunya, kisah Rudi ini sangat umum di Indonesia. Jangan-jangan, Anda sendiri sedang merasakannya.

Akar masalahnya sebenarnya sederhana. Tanpa sadar, Anda memelihara scarcity mindset.

Pola pikir ini membuat Anda gampang merasa terancam. Anda mengira kesuksesan orang lain akan merebut jatah rezeki Anda. 

Apa Itu Abundance Mentality?

Abundance mentality adalah keyakinan bahwa dunia ini penuh peluang. Pola pikir ini sangat berfokus pada kemungkinan dan peluang baru.

Orang dengan mindset ini percaya selalu ada cukup uang. Mereka yakin rezeki tersedia berlimpah untuk semua orang.

Seperti Apa Rasanya Abundance / Keberlimpahan? 

Saya memahami dan merasakan 100% abundance mentality ketika mendengar penjelasan dari Grant Cardone (dalam buku The 10x Rule).

Bayangkan seorang anak kecil sedang bermain di pantai. Ia membawa sebuah ember kecil, lalu mulai mengisinya dengan air laut dan menuangkannya ke atas pasir. Setelah ember pertama kosong, ia kembali ke laut untuk mengisi ember kedua. Lalu ember ketiga, keempat, kelima, dan seterusnya.

Sekarang, coba pikirkan satu pertanyaan sederhana: Pada ember ke berapakah air laut mulai surut?

Ember kesepuluh? Keseratus?

Bahkan keseribu?

Abundance Mindset, Abundance Mentality, Mindset Berlimpah

Tentu saja tidak. Air laut begitu luas dan melimpah, sehingga berapa pun ember yang diisi anak itu, jumlahnya hampir tidak berarti dibandingkan dengan keseluruhan air laut yang tersedia.

Begitulah cara saya membayangkan abundance mentality, yaitu pola pikir yang meyakini bahwa peluang, rezeki dan kesempatan dalam hidup tidak selalu terbatas.

Kita tidak perlu terus-menerus hidup dalam ketakutan bahwa keberhasilan orang lain akan mengurangi kesempatan kita untuk berhasil.

Bagi saya, lautan itu ibarat rezeki dan kesempatan yang telah disediakan oleh Tuhan.

Sementara itu, ember kecil adalah usaha yang kita lakukan setiap hari. Ada yang bekerja, membangun bisnis, menciptakan karya, mengembangkan keterampilan atau menolong orang lain.

Setiap orang punya ember dengan ukuran dan cara yang berbeda-beda.

Tugas kita bukan mengkhawatirkan apakah air laut akan habis ❌

Tugas kita adalah terus belajar, berusaha dan mengambil bagian dari peluang yang ada dengan cara yang baik ✅

Tentu, bukan berarti kita bisa mendapatkan apa pun tanpa batas atau tanpa kerja keras. Lautan yang luas pun tidak otomatis membuat ember kita terisi.

Kita tetap harus berjalan menuju air, mencelupkan ember dan mengangkatnya sendiri.

Jadi, jangan terlalu sibuk menghitung berapa banyak air yang sudah diambil orang lain. Fokuslah pada ember kita sendiri. Terus isi, terus belajar dan terus berusaha.

Mungkin yang membatasi kita bukanlah sedikitnya air di lautan, melainkan keyakinan bahwa ember kita tidak akan pernah cukup untuk mendapatkannya.

Apa Itu Scarcity Mindset?

Scarcity mindset (pola pikir kelangkaan) adalah kebalikan total dari pola pikir berkelimpahan. Pola pikir ini meyakini bahwa sumber daya dunia sangat terbatas.

Mereka selalu merasa uang yang ada tidak pernah cukup. Fokus utama mereka selalu tertuju pada batasan dan rintangan.

Orang dengan scarcity mindset berpikir dengan dasar rasa takut dan kelangkaan. Kondisi emosional mereka selalu dipenuhi kecemasan dan rasa iri.

Mereka terlalu fokus pada apa yang tidak mereka miliki. Akibatnya mereka selalu takut mengambil risiko besar dalam hidup. Kegagalan adalah hal yang sangat menakutkan bagi mereka.

Scarcity Mindset dan Crab Mentality

Pola pikir kelangkaan sangat erat kaitannya dengan crab mentality.

Crab mentality adalah perilaku menjatuhkan orang yang sedang berjuang naik.

Orang bermental miskin tidak tahan melihat temannya sukses. Mereka merasa porsi kue kesuksesan mereka sedang dirampas.

Scarcity Mindset - Pola Pikir Kelangkaan dan Crab Mentality - Melvin MumpuniScarcity Mindset - Pola Pikir Kelangkaan dan Crab Mentality - Melvin Mumpuni 2

Mereka percaya kesuksesan sangat terbatas untuk kelompok tertentu saja. Mereka sering menyabotase karier rekan kerjanya sendiri. Lingkungan kerja menjadi toxic dan tidak produktif. Mereka menghabiskan energi untuk membenci orang lain.

Ciri Seseorang yang Terjebak Scarcity Mindset

Banyak orang kelas menengah tidak sadar telah terjebak pola pikir kelangkaan. Fenomena ini tercermin jelas dalam beberapa kebiasaan hidup sehari-hari.

Orang yang terjebak kondisi ini biasanya sulit memberikan ucapan selamat secara tulus. Saat rekan kerja mendapat promosi jabatan, pikiran mereka sibuk mencari keburukan. Mereka cenderung membenci kompetisi dan kehadiran para pesaing di sekitarnya. Sikap tersebut muncul karena adanya rasa tidak aman dalam batin. Pikiran mereka selalu merasa bahwa dunia ini bekerja sangat tidak adil.

Selain itu, indikasi kelangkaan terlihat dari pola konsumsi yang kurang sehat. Sebagian individu rela menahan lapar demi menyicil barang mewah keluaran terbaru. Perilaku ini terdorong oleh pencarian validasi publik yang tiada hentinya. Namun, mereka sangat pelit untuk membeli buku atau kursus pengembangan diri. Perilaku ini mengunci mereka dalam ilusi kekayaan semu setiap harinya.

Kekhawatiran kehilangan posisi juga membuat seseorang enggan membagikan ilmunya. Informasi penting sengaja disembunyikan dari rekan satu tim di tempat kerja. Ada ketakutan terselubung bahwa orang lain akan menjadi jauh lebih pintar. Padahal, keterbukaan membagikan wawasan justru mendatangkan lebih banyak peluang rezeki.

Bahaya Scarcity Mindset bagi Karier dan Keuangan

Pola pikir kelangkaan ini sangat merusak masa depan seseorang. Orang bermental miskin selalu menghindari risiko demi mencari aman.

Mereka bersikap sangat pesimis terhadap masa depan mereka sendiri. Keputusan yang diambil selalu didasarkan pada kepanikan sesaat.

Di kantor orang dengan pola pikir kelangkaan, akan dijauhi oleh rekan kerja. Atasan tidak akan memberikan proyek penting kepada orang egois. Karier orang tersebut akan terus jalan di tempat bertahun-tahun.

Perbedaan Abundance Mentality dan Scarcity Mentality

Coba kita lihat perbedaan dasar kedua mindset:

 

Indikator Abundance Mentality
(Pola Pikir Berlimpah)
Scarcity Mindset
(Pola Pikir Kelangkaan)
Fokus utama Digerakkan oleh rasa syukur, optimisme dan fokus pada kemungkinan yang bisa dicapai. Dikendalikan oleh rasa takut, kecemasan dan fokus pada apa yang tidak dimiliki.
Pola pikir Peluang dan sumber daya selalu berlimpah untuk semua orang. Rezeki dan kesuksesan sangat terbatas sehingga harus diperebutkan
Tantangan Berani mengambil risiko dan melihat kegagalan sebagai kesempatan untuk terus belajar. Takut akan kegagalan dan cenderung menghindari risiko.
Relasi sosial dan kompetisi Menyambut kompetitor dengan baik dan sangat terbuka untuk berkolaborasi. Merasa terancam oleh pesaing dan enggan untuk berbagi atau berkontribusi.

Perbedaan Behavior

Perilaku sehari-hari mereka juga sangat bertolak belakang.

  • Kelimpahan: Mereka sangat proaktif dan berpikiran menang-menang. Mereka suka mendelegasikan tugas dan memercayai orang lain. Mereka percaya mengeluarkan uang bisa menghasilkan lebih banyak uang. Mereka selalu memperbarui peralatan dan teknologi yang digunakan.

  • Kelangkaan: Mereka sangat reaktif dan berpikiran menang-kalah. Mereka suka mendikte bawahan dan melakukan micromanage setiap saat. Mereka menahan uang erat-erat karena takut jatuh miskin. Mereka sering kali beroperasi menggunakan teknologi yang sudah usang.

Abundance Mentality
(Pola Pikir Berlimpah)
Scarcity Mindset
(Pola Pikir Kelangkaan)
Mereka sangat proaktif dan berpikiran menang-menang (win-win). Mereka sangat reaktif dan berpikiran menang-kalah.
Mereka suka mendelegasikan tugas dan memercayai orang lain. Mereka suka mendikte bawahan dan melakukan micromanage setiap saat.
Mereka percaya mengeluarkan uang bisa menghasilkan lebih banyak uang. Mereka menahan uang erat-erat karena takut jatuh miskin.
Mereka selalu memperbarui peralatan dan teknologi yang digunakan. Mereka sering kali beroperasi menggunakan teknologi yang sudah usang.

Perbedaan Pola dan Siklus

Kedua pola pikir ini membentuk sebuah siklus kehidupan berkelanjutan.

Scarcity Loop 

Dimulai dari ketakutan karena merasa tidak berbakat. Ketakutan ini menimbulkan kecemasan bahwa orang lain lebih hebat. Kecemasan memicu pilihan buruk seperti tidak mau berkolaborasi. Akhirnya menghasilkan hasil negatif seperti kehilangan banyak teman.

The Scarcity Loop

Abundance Loop

Diawali dari rasa syukur atas kemampuan diri sendiri. Ini menciptakan kedamaian pikiran dan rasa bahagia menikmati karya. Kedamaian ini melahirkan pilihan bijak untuk terus belajar hal baru. Siklus ini berujung pada hasil positif berupa kebahagiaan sejati.

The Abundance Mentality Loop

Cara Membangun Abundance Mentality

Melepaskan belenggu pikiran kelangkaan memang membutuhkan waktu dan niat yang kuat. Proses ini bisa dilatih secara perlahan dalam keseharian.

Berikut adalah salah satu pengalaman seorang karyawan yang berhasil melipatgandakan penghasilan, dengan merubah mindsetnya:

Scarcity mindset sempat merantai hidup seorang pemuda bernama Ardi.

Dia berpenghasilan dua puluh juta rupiah setiap bulannya. Angka itu seharusnya cukup untuk hidup tenang di Jakarta.

Sayangnya, Ardi selalu merasa terancam dan gelisah setiap hari. Dia sangat iri melihat rekan kerjanya mendapat promosi. Ardi juga sangat pelit untuk berinvestasi pada keterampilan dirinya.

Pola pikir kelangkaan itu membuat kariernya benar-benar jalan di tempat. Dia menolak berbagi ilmu atau data dengan rekan setimnya. Ardi takut posisinya akan direbut oleh orang lain.

Hidupnya penuh kecemasan dan dompetnya terasa selalu kosong. Gaji sebesar itu habis untuk cicilan gaya hidup semu. Dia terjebak kuat dalam lingkaran setan mental miskin.

Titik balik terjadi saat Ardi menghadiri sebuah seminar keuangan. Di acara itulah dia pertama kali bertemu dengan saya. Waktu itu saya membawakan materi tentang abundance mentality. Ardi duduk di barisan belakang dengan wajah yang tegang. Seusai acara, dia menghampiri saya dan menceritakan keluh kesahnya.

Dia bertekad kuat untuk mengubah pola pikirnya hari itu. Namun, melepaskan kebiasaan lama ternyata sangat tidak mudah. Beberapa bulan pertama Ardi kembali jatuh ke lubang yang sama. Dia kembali merasa panik saat ada rekan baru yang lebih pintar. Rasa iri kembali muncul dan menghancurkan fokus kerjanya. Ardi merasa gagal dan hampir menyerah pada keadaan.

Suatu malam, Ardi mengirim pesan ke Instagram saya, @melvin_mumpuni. Dia sedang stres bersaing memperebutkan proyek besar di kantornya. “Ko Melvin, rasanya lelah sekali harus terus sikut-sikutan,” keluhnya putus asa.

Malam itu juga saya membalasnya dengan sebuah tantangan. “Mas Ardi, coba berhentilah berkompetisi. Coba tawarkan kolaborasi kepada rekan kerjamu,” balas saya. Saya menyarankan agar dia menggabungkan kekuatan, bukan saling menjatuhkan.

Keesokan harinya, Ardi memberanikan diri mempraktikkan saran tersebut.  Dia mendatangi rekannya dan membeberkan ide strateginya secara terbuka.

Awalnya Ardi sangat takut idenya akan dicuri begitu saja.

Namun, respons yang didapatkannya sungguh di luar dugaan. Rekannya menyambut antusias dan menutupi kekurangan ide Ardi dengan keahliannya.

Mereka berdua akhirnya maju bersama untuk mempresentasikan proyek tersebut.

Kolaborasi pertama itu membuahkan kesuksesan yang sangat besar. Klien sangat puas dengan solusi gabungan mereka yang komprehensif.

Bukannya kehilangan jatah rezeki, kue proyek mereka justru membesar. Klien tersebut malah memberikan banyak proyek lanjutan bernilai fantastis.

Sejak saat itu, Ardi mulai dikenal sebagai pemersatu tim.

Dia rutin mengajak rekan-rekannya berkolaborasi menangani proyek-proyek raksasa.

Dia tidak lagi bekerja sendirian dengan penuh rasa cemas.

Dua tahun berlalu sejak pertemuan pertama kami di seminar tersebut. Perubahan mindset ini memberikan hasil yang sangat nyata.

Penghasilan Ardi yang awalnya mentok, kini meroket tajam. Dia rutin mengantongi empat puluh juta rupiah setiap bulan.

Ardi juga diangkat menjadi manajer karena kemampuannya membangun tim.

Dia akhirnya lahir kembali menjadi pribadi yang benar-benar berkelimpahan.

Berikut adalah beberapa langkah praktis yang sering diterapkan untuk mulai membangun pola pikir berkelimpahan:

1. Mempraktikkan Rasa Syukur secara Mendalam

Bersyukur akan terasa lebih bermakna ketika kedamaiannya benar-benar dirasakan di dalam hati.

Salah satu kebiasaan yang bisa dicoba adalah menuliskan tiga hal kecil yang disyukuri setiap pagi.

Langkah sederhana ini perlahan dapat membantu mengalihkan fokus otak dari rasa kurang menjadi rasa cukup.

2. Berbagi dari Hati yang Tulus

Individu dengan mentalitas berkelimpahan umumnya lebih terbuka untuk berkontribusi dan berkolaborasi.

Berbagi waktu, tenaga, atau ilmu sering kali dipercaya dapat membuka pintu rezeki yang baru. Ada keyakinan bahwa kebaikan yang diberikan dengan tulus akan selalu berbuah kebaikan lainnya.

3. Menilai Sesuatu dari Substansi, Bukan Sekadar Status

Gaya hidup sering kali menjebak seseorang untuk terus mengejar validasi sosial. Akan lebih menenangkan jika pengeluaran difokuskan pada fungsi dan kualitas sesungguhnya dari sebuah barang, bukan sekadar mereknya.

Pada akhirnya, ketenangan batin sering kali terasa jauh lebih berharga daripada sekadar pujian dari lingkungan sekitar.

4. Mendefinisikan Ulang Makna Kekayaan

Kekayaan sebenarnya memiliki makna yang jauh lebih luas dari sekadar deretan angka di rekening.

Kesehatan fisik yang prima, kebahagiaan keluarga, serta kemampuan menikmati waktu luang adalah bentuk kekayaan sejati.

Menyadari hal ini bisa membawa seseorang pada esensi kebebasan hidup yang sesungguhnya.

5. Turut Merayakan Keberhasilan Orang Lain

Memberikan apresiasi saat rekan kerja mendapat promosi bisa menjadi cara yang efektif untuk melatih pikiran.

Kebiasaan merayakan pencapaian orang lain dengan tulus membantu otak melihat bahwa peluang sukses sangat luas.

Kesuksesan mereka bukanlah sesuatu yang akan mengurangi porsi rezeki pihak lain.

6. Memperkaya Diri dengan Pengalaman

Berinvestasi pada pengalaman baru sering kali memberikan kepuasan yang tidak bisa dinilai dengan uang.

Memperluas zona nyaman, seperti menikmati perjalanan alam atau mempelajari keterampilan baru, sangat baik untuk pertumbuhan diri.

Berbagai pengalaman ini perlahan akan membuka wawasan menjadi lebih luas.

7. Hadir Sepenuhnya pada Momen Saat Ini

Menikmati hal-hal baik sepenuhnya, seperti meresapi rasa makanan atau fokus saat berkumpul bersama keluarga, adalah kebiasaan yang sehat.

Pola pikir kelimpahan cenderung fokus pada momen masa kini dan pertumbuhan positif.

Hidup menjadi lebih tenang tanpa terlalu dibayangi kecemasan finansial secara berlebihan.

8. Berani Menetapkan Prioritas

Memiliki abundance mentality juga berarti tahu kapan harus berkata tidak pada ajakan yang kurang sejalan.

Menolak tawaran tertentu bukan berarti pelit atau perhitungan.

Hal ini lebih merupakan bentuk penghargaan terhadap prioritas waktu dan tenaga yang dimiliki agar tidak terbuang sia-sia.

9. Membangun Afirmasi Diri yang Positif

Kalimat-kalimat positif yang diulang secara konsisten diyakini dapat membantu memprogram ulang cara kerja otak.

Afirmasi sederhana saat memulai hari bisa menjadi jangkar emosi yang baik.

Beberapa contoh kalimat yang bisa diucapkan antara lain:

Saya terlahir untuk mencapai hal-hal yang sangat menakjubkan.
Saya bekerja hari ini dengan penuh antusiasme dan kepercayaan diri.
Kesuksesan hidup adalah hal yang bisa saya capai.
Saya sangat bangga atas semua hal yang telah saya lewati dan capai.
Ada banyak peluang sukses untuk semua orang, termasuk diri saya.
Tidak apa-apa melakukan kesalahan, karena selalu ada pelajaran berharga di dalamnya.
Saya terlahir untuk mencapai hal-hal yang sangat menakjubkan.
Saya bekerja hari ini dengan penuh antusiasme dan kepercayaan diri.
Kesuksesan hidup adalah hal yang bisa saya capai.
Saya sangat bangga atas semua hal yang telah saya lewati dan capai.
Ada banyak peluang sukses untuk semua orang, termasuk diri saya.
Tidak apa-apa melakukan kesalahan, karena selalu ada pelajaran berharga di dalamnya.

Kesimpulan

Perjalanan mengubah mental miskin menjadi mental kaya tidaklah mudah. Namun Anda tidak boleh menyerah pada scarcity mindset selamanya.

Anda hanya perlu mengubah sudut pandang Anda terhadap rezeki. Terapkan abundance mentality agar hidup Anda menjadi tenang tenteram.

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan

Berikut pertanyaaan yang sering ditanyakan terkait abundance mentality dan scarcity mindset:

Abundance mentality adalah pola pikir yang percaya bahwa sumber daya dunia berlimpah. Orang dengan mindset ini yakin selalu ada peluang dan kesuksesan untuk semua orang.

Scarcity mindset membuat seseorang selalu cemas, iri dan pelit. Pola pikir ini merusak hubungan sosial dan menghambat kemajuan karier serta keuangan.

Ciri utamanya adalah selalu membeli barang demi status sosial. Anda juga sering merasa terancam jika melihat teman meraih kesuksesan.

Mental miskin fokus menghabiskan uang untuk terlihat kaya. Mental kaya fokus menggunakan uang untuk membeli kebebasan waktu dan berinvestasi.

Latih rasa syukur setiap hari dan rayakan kesuksesan orang lain. Kurangi bermain media sosial dan berinvestasilah pada pendidikan diri sendiri.

📑 Referensi 

Berikut referensi yang digunakan dalam artikel Stop Scarcity Mindset! 5 Bedanya dengan Abundance Mentality:

 

Website

  1. Info Psikologi. 28 September 2023. Pengertian Abundance Mentality dan Cara Menerapkannya. Kumparan.com
  2. Aulia Firafiroh. 16 Februari 2022. Abundance Mentality, Pola Pikir yang Dibutuhkan Agar Karier Sukses. Parapuan.co
  3. Ingrid Fetell Lee. 5 November 2022. How to cultivate an abundance mindset. AestheticsOfJoy.com
  4. Ridwan Gbolagade. 5 September 2019. Scarcity Mentality vs Abundance Mentality. Linkedin.com
  5. The Strategic Coach Team. Mindset Matters: Abundance Mindset vs. Scarcity Mindset. StrategicCoach.com
  6. People Results Editorial Team. 26 Maret 2024. How to Manage with an Abundance – Not Scarcity – Mindset. PeopleResults.com
  7. Rumie Editorial Team. What is Abundance Mentality? How Can It Help My Personal Life? Learn.Rumie.org
  8. Editorial Finansialku. 17 Juni 2018. 2 Mindset Manusia: Dunia yang Berlimpah vs Kelangkaan. Mana Milik Anda? Finansialku.com

 

Buku dan Jurnal

  1. Covey, Stephen R. 1989. The 7 Habits of Highly Effective People. USA: Free Press
  2. Eker, T. Harv. 2005. Secrets of the Millionaire Mind: Mastering the Inner Game of Wealth. USA: HarperBusiness
  3. Grant Cardone. 2011. The 10X Rule: The Only Difference Between Success and Failure. Amerika Serikat: John Wiley & Sons.
  4. Hill, Napoleon. 1937. Think and Grow Rich. USA: The Ralston Society
  5. Honda, Ken. 2019. Happy Money: The Japanese Art of Making Peace with Your Money. USA: Gallery Books
  6. Housel, Morgan. 2020. The Psychology of Money: Timeless lessons on wealth, greed, and happiness. UK: Harriman House
  7. Wattles, Wallace D. 1910. The Science of Getting Rich. USA: Elizabeth Town