Cara kelas menengah naik kelas di tengah fenomena penyusutan ekonomi (shrinking middle class) tidak bisa bergantung pada pemerintah atau orang lain. Lalu bagaimana cara kelas menengah naik kelas?

Berikut ini diskusi saya, dengan Tirta Prayudha dan Vinsen Adhitya (podcaster) di podcast Big Alpha Unfiltered.

 


Dapat ditonton atau didengarkan di:

Tonton di Youtube
Dengarkan di Spotify
Dengarkan di Apple Podcast

📝 Poin Penting: Cara Kelas Menengah Naik Kelas

Berikut ini poin-poin penting dalam diskusi mengenai cara kelas menengah naik kelas:

 

Menanggapi fenomena penyusutan kelas menengah (shrinking middle class), saya membagikan 5 pilar utama agar individu dapat beradaptasi dan naik kelas, yaitu:

  1. peningkatan Knowledge (pendidikan/baca buku),
  2. peningkatan Skill (keahlian baru seperti AI/editing),
  3. perluasan Network (jejaring di luar ruang kerja),
  4. peningkatan Experience (jam terbang keahlian spesifik),
  5. peningkatan Personal Branding.

Saya membedakan secara tegas antara trading dan investing.

  • Trading berfokus pada profit and loss (P&L) jangka pendek.
  • Sedangkan dengan investing yang menggunakan pola pikir balance sheet jangka panjang.

Di tengah penurunan IHSG, saya menilai kondisi ini sebagai peluang emas (time to buy) bagi investor jangka panjang karena banyak saham berkinerja baik harganya terdiskon hingga ke tingkat 4–5 tahun lalu.

Saya menjelaskan bahwa melonjaknya harga dolar dipicu oleh hukum supply and demand, seperti tingginya kebutuhan impor BBM, gandum untuk mie instan, alat medis, serta pembayaran utang luar negeri.

Saya menekankan bahwa menjaga nilai tukar adalah kerja sama tim seluruh kementerian dan instansi, bukan sekadar tugas Bank Indonesia (BI) semata, sehingga tidak tepat untuk melempar kesalahan pada satu lembaga saja.

Saya mengkritik gaya komunikasi publik pemerintah yang dinilai kurang memiliki panduan (guidance) jernih dan terkesan berubah-ubah layaknya startup.

Saya membandingkannya dengan Singapura yang secara transparan mengomunikasikan risiko AI terhadap pekerjaan dan langsung memberikan bantuan pelatihan (up-skilling) bagi warganya.

Milenial kelahiran 1980–1996 diingatkan bahwa mereka hanya memiliki sisa waktu 10–15 tahun menuju pensiun, sehingga harus mulai menanam aset dari sekarang (misalnya melalui saham dividen terdiskon atau KPR rumah kos).

Selain itu, ia mengingatkan aturan rasio keuangan sehat: dana darurat idealnya 6–12 kali pengeluaran bulanan dan cicilan maksimal 35% dari penghasilan.


💬 Statement Penting 

Berikut ini pernyataan penting terkait potensi investasi 2026 di Indonesia:

Kalau lu enggak kuasain knowledge atau enggak ada skill, lu dikasih rezeki di depan mata pun lu enggak akan tahu.

Pernyataan Saya mengenai “kalau lu enggak kuasain knowledge atau enggak ada skill, lu dikasih rezeki di depan mata pun lu enggak akan tahu” maksudnya adalah:

 

🔵 Membedakan Signal dan Noise

Kalimat ini saya utarakan saat membahas rapat antara Komisi XI DPR dan Gubernur Bank Indonesia.

Kebanyakan masyarakat dan media sosial fokus pada drama perdebatan sengit antara Anggota DPR (Primus) dan Gubernur BI, yang berujung jadi ramai dan sebatas keriuhan (noise).

Namun, saya yang memiliki knowledge dan skill melihat substansi utama yang disampaikan Gubernur BI, yaitu keterbukaan mengenai perkiraan waktu/bulan kapan nilai tukar dolar akan kembali stabil.

 

🔵 Menangkap Peluang Saham Terdiskon

Informasi mengenai batas waktu pemulihan nilai tukar tersebut merupakan sinyal dan rezeki di depan mata bagi seorang investor:

  • Orang tanpa knowledge & skill: Hanya sibuk menonton drama videonya, ikut panik melihat pasar saham turun, atau melewatkan informasinya begitu saja.
  • Orang dengan knowledge & skill: Memahami bahwa saat IHSG turun akibat sentimen dolar, banyak saham dari perusahaan bagus yang kinerjanya tidak bermasalah tetapi harganya terdiskon miring hingga kembali ke harga 4–5 tahun lalu. Mereka langsung mengecek daftar saham (watchlist) untuk memanfaatkan momen diskon tersebut (time to buy).

 

Saya ingin menegaskan bahwa peluang besar atau rezeki sering kali hadir terselubung di tengah krisis atau berita buruk. Sebagus apa pun sinyal atau informasi yang ada di depan mata, jika seseorang tidak membekali dirinya dengan pengetahuan (knowledge) dan kemampuan mengeksekusi (skill), peluang emas tersebut akan lewat begitu saja tanpa disadari.

👨🏻Profil Tirta Prayudha,  Vinsen Adhitya dan Podcast Big Alpha Unfiltered

Tirta Prayudha (CEO & Co-Founder) adalah Chief Executive Officer dari Big Alpha. Tirta memiliki latar belakang sebagai financial analyst dan kisah hidup yang cukup inspiratif. Ia merintis Big Alpha sebagai wadah untuk menyalurkan pengetahuan dan literasi keuangannya ke masyarakat.

Vinsen Adhitya (COO & Co-Founder) adalah Chief Operating Officer dari Big Alpha. Bersama Tirta, Vinsen aktif terjun langsung dalam memberikan edukasi literasi keuangan. Ia kerap menjadi narasumber dan pembicara di berbagai acara seminar maupun edukasi digital untuk membagikan wawasan mengenai investasi yang aman dan perencanaan keuangan.


Cara Kelas Menengah Naik Kelas Unfiltered Big Alpha Melvin Mumpuni Tirta Vinsen

Melvin Mumpuni (kiri),  Vinsen Adhitya dan Tirta Prayudha (kanan) di Podcast Big Alpha Unfiltered

 

Big Alpha Unfiltered adalah program podcast edukasi dari Big Alpha yang membahas isu seputar bisnis, keuangan, dan sosial-politik secara santai, blak-blakan, serta mendalam. Program ini secara rutin mengundang berbagai tokoh dari lintas profesi untuk membagikan wawasan dan perspektif yang realistis kepada masyarakat luas.


✍🏻Catatan:

Untuk undang Melvin Mumpuni ke podcast atau acara Anda silakan hubungi kami.

Cek ringkasan podcast lainnya.