Saham ISSP mengalami pertumbuhan penghasilan dan laba bersih. Apa strategi yang dilakukan perusahaan?  

Berikut ini diskusi saya, Wiwin Prawira (host) dengan Ibu Liza Camelia Suryanata (head of research Kiwoom Sekuritas Indonesia, narasumber) dan Pak Johanes Wahyudi Edward (Corporate Secretary PT. Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk) di podcast Folknomics Roundtable.


Dapat ditonton atau didengarkan di:

Tonton di Youtube
Dengarkan di Spotify
Dengarkan di Apple Podcast

📝 Poin Penting: Saham ISSP di Tahun 2026

Berikut ini poin-poin penting dalam diskusi mengenai saham ISSP di tahun 2026:

Spindo sedang menyelesaikan pembangunan pabrik Unit 7 di Gresik seluas 80 hektar yang dilengkapi mesin otomatis dan robotik tercanggih.

Peningkatan ini berpotensi menggandakan (double) total kapasitas produksi Spindo dari 700.000 ton menjadi 1,4 juta ton per tahun.

Hanya dengan utilisasi 10% dari satu mesin besarnya (20 inch), Spindo berpotensi mengantongi tambahan laba kotor (gross profit) hingga Rp480 miliar per tahun.

Peningkatan ini juga ditargetkan mampu mendorong net profit mencapai Rp1 triliun di masa mendatang.

Spindo menguasai sekitar 35%–40% market share pipa baja di Indonesia.

Tidak seperti pesaing yang hanya fokus pada satu industri (seperti migas atau otomotif saja), Spindo beroperasi di seluruh sektor pengguna pipa baja (konstruksi, furniture, kendaraan, hingga infrastruktur).

Model bisnis ini membuat kinerja Spindo sangat stabil dan resilien, bahkan tetap mencetak grafik pertumbuhan positif selama masa pandemi COVID-19.

Risiko penjualannya pun sangat tersebar ke 2.000–3.000 pelanggan aktif per tahun.

Pipa baja Spindo menjadi komponen krusial cooling system dan penyangga lantai (pedestal) proyek data center.

Saat ini Spindo sedang menyuplai 4 proyek data center, di mana satu proyek saja membutuhkan hingga 7.000 ton pipa.

Spindo juga memasok pipa casing & tubing untuk proyek energi panas bumi (geothermal) serta proyek minyak dan gas nasional.

Di luar bisnis komersial, Spindo aktif dalam program CSR pipanisasi air bersih (SDG 6) untuk desa-desa terpencil di berbagai wilayah Indonesia.

Manajemen menegaskan bahwa nilai nominal top line (pendapatan) bukan fokus utama karena sangat dipengaruhi oleh dinamika harga baja dunia.

Ketika harga baja global turun, Spindo justru dapat mengalami ekspansi margin (margin expansion) karena harga bahan baku (hot rolled coil) turun lebih dalam dibandingkan rata-rata harga jualnya.

Strategi menjaga ketersediaan barang (ready stock) memberi Spindo posisi tawar (bargaining position) yang jauh lebih kuat dibanding bergantung pada kontrak jangka panjang.

Spindo berhasil mencatatkan hat-trick rekor laba bersih teratas (all-time high) selama 3 tahun berturut-turut.

Walaupun kinerja keuangan terus bertumbuh, valuasi Price to Book Value (PBV) ISSP di pasar modal masih berada di bawah angka 1 (undervalued).

Hal ini terjadi karena adanya stigma salah kaprah dari pelaku pasar yang menganggap Spindo sebagai produsen baja mentah biasa, padahal Spindo adalah manufaktur pipa baja.

Manajemen berkomitmen membagikan dividen secara konsisten dengan rasio pembayaran (Dividend Payout Ratio) yang terus meningkat.


💬 Statement Penting 

Berikut ini pernyataan penting dari Johannes Wahyudi Edward (Corporate Secretary Spindo) terkait daya saing dan tantangan industri dalam negeri secara umum (tidak hanya di saham ISSP).

Defensif itu enggak akan pernah menang. Kita harus bisa ofensif. Mampukanlah kami-kami ini pelaku-pelaku industri dalam negeri ini untuk bertarung di luar. 

Pernyataan Johannes Wahyudi Edward tersebut disampaikan ketika memberikan pandangan dan harapan Spindo terhadap kebijakan pemerintah bagi industri manufaktur pipa baja serta produk hilir dalam negeri.

 

Berikut adalah penjelasan mendalam mengenai apa yang dimaksud oleh beliau:

1. Membedakan “Defensif” dan “Ofensif”

Langkah Defensif (Proteksi Domestik): Kebijakan pemerintah seperti penetapan bea masuk atau proteksi pasar lokal diakui berdampak positif.  Namun, kebijakan ini sifatnya hanya mempertahankan pasar dalam negeri (defensif).  Jika pemerintah hanya fokus pada tindakan proteksi, industri nasional tidak akan pernah benar-benar berkembang menjadi pemenang di tingkat global.

Langkah Ofensif (Ekspansi ke Pasar Global): Pemerintah harus mendorong dan memfasilitasi pelaku industri nasional untuk melakukan counter strike (serangan balik). Artinya, industri dalam negeri harus dimampukan untuk menembus pasar luar negeri dan bertarung secara langsung dengan kompetitor internasional.

 

2. Hal-Hal Konkret yang Dibutuhkan untuk Bertarung di Luar

Insentif bagi Perusahaan Berorientasi Ekspor:

  • Pemerintah dapat memberikan insentif khusus bagi perusahaan yang fokus pada ekspor, seperti di Tiongkok (China).
  • Beliau mengusulkan bentuk dukungan nyata di Indonesia, seperti pembebasan PPN atau pengurangan PPh untuk produk-produk ekspor.
  • Menghilangkan High-Cost Economy (Ekonomi Biaya Tinggi): Pemerintah diminta membantu memangkas beban-beban tak perlu di luar proses produksi (seperti gangguan ormas, pungli dan biaya ekosistem yang tinggi) yang selama ini menggerus daya saing produsen lokal.
  • Kemudahan Regulasi dan Kepercayaan: Dibandingkan dengan keraguan berlebihan (misalnya kecurigaan under-invoicing ketika memfasilitasi ekspor), pemerintah dapat memanfaatkan sistem integrasi online untuk mengawasi sekaligus mempermudah pengajuan insentif ekspor bagi industri hilir.

 

Inti dari pesan Johannes adalah industri manufaktur dalam negeri, tidak boleh sekadar diposisikan sebagai jago kandang yang selalu berlindung di balik benteng proteksi pasar lokal. Pemerintah perlu membekali produsen hilir dengan insentif yang kompetitif dan regulasi yang efisien agar mereka memiliki daya tempur untuk menguasai pasar ekspor global.

👨🏻Profil Pak Johannes Wahyudi Edward dan Ibu Liza

Johanes Wahyudi Edward adalah profesional di bidang keuangan, investasi, dan strategi bisnis yang memiliki pengalaman panjang di pasar modal Indonesia. Di PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (SPINDO, Kode saham ISSP), beliau berperan dalam bidang strategi dan pengembangan bisnis serta hubungan investor perusahaan.


Wiwin Prawira, Melvin Mumpuni, Pak Johanes Wahyudi Edward dan Ibu Liza Camelia Suryanata di Folknomics Roundtables Edisi Saham ISSP

Wiwin Prawira (kiri dalam), Melvin Mumpuni (kiri), Pak Johanes Wahyudi Edward (kanan dalam) dan Ibu Liza Camelia Suryanata (kanan)


Ibu Liza Camelia Suryanata adalah Head of Research (Kepala Riset) di PT Kiwoom Sekuritas Indonesia yang memiliki fokus keahlian pada strategi pasar, makroekonomi, dan analisis teknikal. Berbekal pengalaman panjang di pasar modal sejak tahun 2005, beliau aktif memberikan pandangan, riset, serta proyeksi pergerakan saham seperti IHSG yang kerap dikutip oleh berbagai media berita ekonomi sebagai acuan bagi para investor.

🎙️Folkonomics Podcast

Podcast berkonsep fintainment (finansial dan hiburan) asal Indonesia yang mengemas edukasi keuangan, investasi, dan pengembangan karier menjadi obrolan santai yang mudah dicerna.

Dirancang khusus untuk milenial dan Gen Z, platform ini menghadirkan ragam wawasan praktis dari para pakar dan praktisi bisnis untuk membantu anak muda agar lebih melek finansial, cerdas mengelola uang dan siap membangun masa depan yang mapan tanpa cara belajar yang membosankan.


✍🏻Catatan: