Keuangan sehat sebelum usia 35 tahun adalah cita-cita banyak masyarakat Indonesia. Sayangnya tidak semua orang tahu langkah-langkahnya.  

Berikut ini diskusi saya, dengan Berynda Carolin Sandra (podcaster) di podcast Investasiku.


Dapat ditonton atau didengarkan di:

Tonton di Youtube
Dengarkan di Spotify
Dengarkan di Apple Podcast

📝 Poin Penting: Keuangan Sehat Sebelum Usia 35 Tahun

Berikut ini poin-poin penting dalam diskusi mengenai keuangan sehat sebelum usia 35 tahun:

Banyak orang terjebak berusaha berhemat secara ekstrem dari gaji kecil, padahal berhemat ada batasnya.

Saya menekankan bahwa kuncinya adalah meningkatkan atau memperbanyak penghasilan (hack income), bukan menekan pengeluaran secara berlebihan. Ia membedah bahwa ada 9 sumber penghasilan yang terbagi dalam 3 kategori utama:

  • Active Income: Earned income (gaji/profesi), profit income (berdagang/trader), dan project income (proyekan).
  • Investment Income: Capital gain (selisih harga jual saham/aset), dividen (bagi hasil perusahaan), dan interest income (bunga deposito/obligasi pemerintah).
  • Passive/Asset Income: Rental income (sewa properti/kendaraan), royalty income (hak cipta/overriding bisnis), dan franchise (waralaba).

Saya mengkritik fenomena anak muda yang berhasil mengumpulkan uang tabungan hingga Rp300 juta namun membiarkannya mengendap di rekening tabungan biasa.

Membiarkan uang sebesar itu menganggur adalah langkah kurang tepat karena nilainya tergerus.

Seharusnya, simpan dana darurat secukupnya (misal Rp100 juta), lalu sisa Rp200 juta dapat diputar ke bisnis riil/waralaba agar menghasilkan cash flow bulanan yang bisa dipakai membayar cicilan rumah atau membantu orang tua.

Banyak orang merasa mencari uang itu sulit karena pola asuh masa kecil yang sering menanamkan ajaran “hemat-hemat ya, cari uang itu susah”.

Mindset ini akhirnya terkonfirmasi saat dewasa. Saya mengajak untuk mengadopsi abundance mentality (pola pikir berlimpah), diibaratkan seperti mengambil air di laut dengan ember yang tidak akan pernah habis.

Kenapa bisa begitu? karena rezeki sebenarnya sudah disediakan jika kita tahu caranya.

Podcast ini menyoroti fenomena anak muda yang gampang resign dari pekerjaan karena merasa masih memiliki dana darurat berupa tempat tinggal dan makanan gratis dari orang tua.

Selain itu, dibahas pula perilaku doom spending (belanja impulsif seperti pakaian boneka Labubu), yang sering kali berakar dari trauma masa kecil ketika tidak mampu membeli barang yang diinginkan.

Sebelum berfokus mengejar high income, Melvin merangkum 5 fondasi dasar yang wajib dibenahi terlebih dahulu:

  1. Memiliki lebih dari 1 sumber penghasilan.
  2. Memastikan penghasilan lebih besar daripada pengeluaran.
  3. Memiliki dana darurat secukupnya (sekitar 6 bulan pengeluaran).
  4. Mengontrol utang (hindari pinjol/paylater konsumtif; utang hanya ideal jika dipakai untuk aset produktif).
  5. Memiliki proteksi asuransi.

💬 Statement Penting 

Berikut ini pernyataan penting terkait Investasi Saham Value Investing:

Kalau Kamu merasa penghasilanmu kurang, ya sudah cari penghasilan lagi, bukan berhemat. Yang kamu hack tuh income-nya, bukan pengeluarannya.

Pernyataan Saya mengenai “Kalau Kamu merasa penghasilanmu kurang, ya sudah cari penghasilan lagi, bukan berhemat. Yang kamu hack tuh income-nya, bukan pengeluarannyamenjelaskan mengenai:

 

🔵 Adanya Batas Matematis dalam Berhemat

Bagi seseorang dengan tingkat penghasilan terbatas (misalnya Rp4–5 juta per bulan untuk keluarga dengan dua anak), memotong pengeluaran sebesar 20%, 30%, atau 40% secara matematis tidak masuk akal (doesn’t make sense) karena tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar.

Pengeluaran kebutuhan pokok memiliki batas minimal yang tidak bisa terus-menerus ditekan.

 

🔵 Strategi Hack Income

 Daripada menghabiskan energi untuk berhemat secara berlebihan, kuncinya adalah memahami permainan cara meningkatkan atau memperbanyak sumber penghasilan (hack income).

Menurut Saya, pengeluaran cukup dijaga pada tingkat yang wajar (secukupnya); selama penghasilan terus bertambah, memenuhi sebagian keinginan (wants) tidak akan menjadi masalah.

 

🔵 Pola Pikir (Mindset) Kekurangan vs. Taraf Hidup

Fokus yang berlebihan pada berhemat berakar dari pola pikir merasa kekurangan uang.

Saya menilai bahwa semakin seseorang berhemat secara ekstrem, mereka justru akan semakin merasa tertekan (ketindas) dan sulit berkembang.

Jika ingin taraf hidup naik, konsekuensinya adalah penghasilan yang harus ditingkatkan.

 

🔵 Menambah Kaki Penghasilan

Meningkatkan penghasilan dilakukan dengan tidak menggantungkan hidup hanya pada satu sumber gaji, yang diibaratkan seperti meja dengan satu kaki.

Penghasilan bisa ditambah dengan memanfaatkan peluang lain,misalnya pasangan ikut bekerja/berinvestasi, atau membangun alokasi dari active income, investasi, hingga aset pasif.

👩🏻Profil Berynda Carolin Sandra dan Podcast Investasiku

Berynda Carolin Sandra adalah praktisi di bidang pasar modal di Indonesia. Sandrag aktif memberikan edukasi dan literasi keuangan kepada masyarakat luas, baik melalui media sosial maupun kegiatan offline. Beliau pernah bekerja di Mega Capital Indonesia selaku head of business partnership Investasiku.

5 Pilar Keuangan Sehat Sebelum Usia 35 tahun di Investasiku Podcast Melvin Mumpuni Berynda Carolin Sandra

Melvin Mumpuni (kiri) dan Berynda Carolin Sandra (kanan) di Podcast Investasiku


Podcast InvestasiKu adalah program siaran audio edukasi (bagian dari fitur Eduvest) yang dirilis oleh platform aplikasi InvestasiKu untuk meningkatkan literasi keuangan masyarakat. Program ini rutin menyajikan pembahasan informatif seputar pergerakan pasar saham (IHSG), ide trading, pembaruan reksa dana, hingga isu ekonomi makro terkini yang dirancang untuk membantu para investor dalam membuat keputusan investasi yang lebih cerdas.

✍🏻Catatan: