Mindset keuangan generasi sandwich yang sehat adalah fondasi mutlak agar Anda tidak mewariskan beban yang sama kepada anak cucu kelak. Sebesar apa pun gaji Anda, semua itu tidak akan pernah cukup jika Anda masih menggunakan pola pikir lama dalam mengelola uang.

Berikut ini diskusi saya dengan Bilal Faranov di podcast Suara Berkelas.

Dapat ditonton atau didengarkan di:

Tonton di Youtube

Dengarkan di Spotify

Dengarkan di Apple Podcast

 

📝 Poin Penting: Mindset Keuangan Generasi Sandwich 

Berikut ini poin-poin penting dalam diskusi mengenai mindset keuangan generasi sandwich:

Banyak anak muda (Gen Z) menghabiskan hingga 70% pendapatan bulanan mereka untuk hal-hal konsumtif.

Hal ini didorong oleh dua hal utama: kemudahan sistem pembayaran masa kini (seperti QRIS, paylater, dan dompet digital) serta kebutuhan yang sengaja diciptakan oleh pasar (created needs). Berbagai standar gaya hidup baru terus dikampanyekan—mulai dari kebiasaan membeli kopi susu gula aren harian, botol minum bermerek, hingga berbagai biaya langganan (subscription) film dan musik.

Untuk mengatasinya, kita memerlukan budgeting dari sisi finansial dan sikap mindful dari sisi non-finansial agar kita yang memegang kendali penuh untuk mengatur uang, bukan malah diatur oleh tren pasar.

Nasihat lama yang sering kita dengar sejak kecil seperti “cari uang itu susah” tanpa sadar terekam di alam bawah sadar dan membuat kita benar-benar kesulitan saat dewasa. Mindset keuangan seperti ini harus diperbaiki menjadi: “Cari uang itu sulit kalau tidak mengerti caranya”. Begitu kita memahami caranya, mencari uang justru akan menjadi hal yang menyenangkan.

Secara garis besar, ada 3 sumber besar pendapatan manusia:

  • Active Income: Kita yang bekerja untuk menghasilkan uang (seperti kasir toko).
  • Investment Income: Uang yang bekerja untuk kita (seperti memiliki kepemilikan saham perusahaan).
  • Passive Income: Aset yang bekerja untuk kita (seperti membeli lisensi waralaba/franchise).

Masing-masing dari tiga sumber tersebut memiliki tiga cabang lagi, yang jika digabungkan membentuk konsep 9 Pintu Rezeki. Pendapatan ini bisa dikembangkan secara vertikal (naik jabatan di tempat kerja) maupun horizontal (membangun sampingan, lalu menginvestasikan hasilnya ke instrumen lain).

Aset adalah segala sesuatu (baik yang terlihat maupun tidak terlihat) yang mendatangkan uang masuk ke kantong kita.

Contoh: menyewakan kamera, menjual produk digital, atau mendapatkan royalti seumur hidup seperti Michael Jordan dengan brand Air Jordan-nya.

 

Liabilitas adalah segala sesuatu yang justru mengeluarkan uang dari kantong kita.

contoh: mobil untuk pemakaian pribadi yang terus membutuhkan biaya perawatan dan bensin tanpa menghasilkan pemasukan.

Jangan terjebak dalam pola pikir serba kekurangan (scarcity mindset) yang membatasi diri hanya pada dua pilihan biner (pilih HP atau nikah) .

Gunakan Abundance Mentality (mentalitas kelimpahan) dengan mencari opsi ketiga atau keempat .

Tanyakan pada diri sendiri: “Bagaimana caranya agar saya bisa membeli HP baru sekaligus tabungan nikah tetap aman?”

Jawabannya bisa dengan mencari proyek sampingan (freelance) khusus untuk mendanai salah satu kebutuhan tersebut.

Pensiun tidak harus menunggu usia 56 tahun. Siapa pun bisa pensiun di usia berapa pun asalkan siap secara finansial.

Pensiun tidak berarti berhenti berkarya total, melainkan bekerja karena kita “ingin” (aktualisasi diri), bukan karena “butuh” untuk bertahan hidup.

Tentukan target usia pensiun Anda, hitung biaya gaya hidup yang diinginkan, dan bangun strategi investasi untuk mencapai angka tersebut.

Masalah utama generasi sandwich sebenarnya bukan pada tanggung jawabnya, melainkan pada pendapatan yang terlalu kecil.

Generasi sandwich ibarat meja kafe lingkaran yang hanya ditopang oleh satu kaki (gaji UMR) untuk menahan beban yang berat (orang tua dan anak/adik). Solusinya adalah menambah kaki-kaki meja baru (membuat sumber pendapatan kedua, ketiga, dst.) agar topangannya lebih kokoh.

Langkah pertama dan terberat dalam proses ini adalah langkah non-finansial: berkomunikasi secara terbuka dan jujur kepada orang tua mengenai kondisi keuangan dan rencana masa depan kita.

 

💬 Statement Penting 

Generasi sandwich itu ibarat meja kafe satu kaki.

Begitu bebannya banyak, mejanya goyang.

Solusinya adalah buat kaki meja kedua, ketiga dan keempat supaya kokoh.

Melvin Mumpuni

 

👨🏻Profil Bilal Faranov dan Podcast Suara Berkelas

Bilal Faranov adalah seorang content creator, creative director, dan Co-Founder sekaligus Host (pemandu acara) utama dari Podcast Suara Berkelas. Bilal sering dikenal sebagai sosok yang multitalenta.

Dalam perjalanan karirnya, Bilal mengakui bahwa ia dulu sempat terjebak dalam victim mentality (merasa dunia tidak berpihak padanya) dan memiliki kecemasan (anxiety) bahwa orang-orang tidak menyukainya. Namun, ia berhasil melawan pikiran tersebut dengan memposisikan dirinya sebagai seorang storyteller dan terus beraksi (berkarya).

Bilal memiliki filosofi kepemimpinan diri yang kuat, di mana ia percaya bahwa masalah banyak orang bukanlah pada “niat”, melainkan pada aksi dan konsistensi di saat menghadapi ketidaknyamanan.

 

Suara Berkelas adalah #1 Self-Help & Education Podcast yang bakal bantu kamu punya growth mindset, lebih produktif, melek finansial, dan menggali potensimu. Dipandu oleh Bilal Faranov dan narasumber berkelas yang menghadirkan obrolan bermakna serta strategi praktis untuk membantumu beradaptasi di dunia yang serba cepat.

Youtube @BerkelasPodcast

Instagram @SuaraBerkelas